Langsung ke konten utama

GERAKAN PEMBARUAN DALAM ISLAM


Definisi Pembaruan
      Secara etimologi/bahasa "pembaruan" yaitu proses memperbaharui sesuatu yang dipandang usang atau rusak. Istilah bahasa Arabnya Tajdid. Nama lain yang digunakan adalah modern, modernisasi, dan modernisme yang mengandung arti: pikiran, aliran, gerakan, dan usaha untuk merubah paham-paham, adat-istiadat, institusi-institusi lama, dan sebagainya untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Biografi Tokoh Pembaruan Islam
1. Muhammad Ali Pasya (1765 – 1849 M)
        Muhammad Ali Pasya dilahirkan di Kawalla, yang berada di bagian utara Yunani, pada bulan Januari 1765 M. Ayahnya bernama Ibrahim Agha, dari Turki. Secara ekonomi, keluarganya termasuk tidak mampu. Tetapi, ia termasuk anak yang cerdas dan pemberani. Dua hal itulah yang mengantarkannya menjadi pemimpin di Mesir dan salah satu pembaharu di dunia Islam. Salah satu jasa besarnya adalah berhasil menyelamatkan Mesir dari pendudukan Napoleon dari Perancis. Sehingga Sultan di Turki merestui Muhammad Ali menjadi wali Mesir. 
Pemikiran Muhammad Ali Pasya:
  1. Mengirimkan pelajar Mesir ke Prancis, Italia, Inggris, dan Austria sebanyak 311 antara tahun 1813 - 1849
  2. Dalam bidang militer, Ali Pasya melakukan beberapa langkah, yaitu: mendatangkan seorang perwira tinggi Prancis bernama Save untuk melatih tentara militer Mesir. Selain itu, mengirimkan pelajar Mesir untuk belajar kemiliteran di Prancis. Setelah selesai, mereka diminta kembali ke Mesir untuk mengajar di sekolah militer di Mesir;
  3. Dalam bidang ekonomi, Ali Pasya melakukan beberapa langkah, yaitu: memperbaiki irigasi lama, membuat irigasi baru, menanam kapas, mendatangkan ahli dari Eropa, membuka sekolah pertanian.
  4. Dalam bidang pendidikan, Ali Pasya melakukan mendirikan sekolah modern, yaitu: Sekolah Militer, Sekolah Teknik, Sekolah Kedokteran, Sekolah Apoteker, Sekolah Pertambangan, Sekolah Pertanian, Sekolah Penerjemahan, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, Politeknik, Sekolah Akunting, Sekolah Sipil, Sekolah Irigasi, Sekolah Industri, Sekolah Administrasi, Sekolah Pertanian, Sekolah Perwira Angkatan Laut, Sekolah Industri Bahari, Sekolah Tinggi Kedokteran. 
        Selain itu, Ali Pasya memasukkan ilmu modern ke dalam kurikulum pendidikan. Ali Pasya mengategorikan sebagai berikut: 
  1. Ilmu pengetahuan bahasa terdiri dari: bahasa Italia, Perancis, Turki, dan Persia; 
  2. Ilmu pengetahuan sosial terdiri dari: sejarah, geografi , ekonomi, antropologi, administrasi negara, pendidikan negara, pendidikan kemasyarakatan, fillsafat, militer, dan hukum; 
  3. Ilmu pengetahuan alam terdiri dari: fisika, farmasi, ilmu alam, ilmu kedokteran, ilmu teknik, aristek, dan kimia; 
  4. Matematika dengan pelajaran utama: aritmatika dan matematika; 
  5. Pengetahuan keterampilan yang terdiri dari: keterampilan umum dan pendidikan kesejahteraan keluarga. 
      Ide Ali Pasya ini berpengaruh pada perkembangan Mesir pada masa selanjutnya. Dengan ide tersebut berhasil menjaga stabilitas ekonomi Mesir sehingga berkembang dengan pesat, diantaranya Kairo dan Alexandria. Selain itu, dari kebijakan yang dikeluarkannya, menjadi landasan munculnya tokoh pembaharuan Islam pada masa berikutnya.  
2. Jamaludin Al-Afghani (1838 – 1897 M)
   Nama lengkapnya adalah Jamaludin Al-Afghani. Ia lahir pada tahun 1839 M di Afghanistan, dan meniggal dunia di Istanbul pada tahun 1897 M. Jamaludin ialah pemimpin pembaharuan Islam yang tempat tinggal dan aktivitasnya berpindah-pindah dari satu negara ke negara yang lain. Pengaruh pemikiran dan pembaharuannya yang paling besar dan nyata ialah di Mesir. Oleh karena itu, meskipun masa kecilnya dihabiskan di Afghanistan, perjuangannya lebih banyak di Mesir, Hijaz, Yaman, Rusia, Turki, Inggris, India, dan Perancis. 
      Jamaludin merupakan seorang yang cerdas. Pada usia yang masih muda, yakni 18 tahun, ia sudah menguasai berbagai disiplin keilmuan, seperti ilmu agama, filsafat, hukum, sejarah, metafisika, kedokteran, sains, astronomi, dan astrologi. Dalam kariernya, Jamaludin pernah menjabat sebagai perdana menteri di Afghanistan. Tetapi, saat itu Inggris mencampuri masalah politik dalam negeri, ia pun meninggalkan Kabul, dan pergi ke India. Di India, ternyata juga sudah diintervensi Inggris sehingga ia berpindah ke Mesir pada tahun 1871.
Pemikiran Jamaludin Al-Afghani
  1. penyebab kemunduran Islam disebabkan beberapa hal, yaitu: akhlak buruk dan acuh terhadap ilmu pengetahuan, kelemahan umat Islam dalam segala sektor, dan kurangnya usaha dalam mencerdaskan umat, baik untuk menekuni dasar-dasar ilmu agama maupun upaya transformasi ilmu pengetahuan, intepretasi tentang makna qadha dan qadar yang salah sehingga memalingkan dari usaha dan kerja keras, kekeliruan dalam memahami hadits Nabi Muhammad Saw bahwa umat Islam akan mengamalami kemunduran pada akhir zaman. Kesalahan ini menyebabkan umat Islam tidak mau berusaha untuk memperbaiki nasib, dan lemahnya ukhuwah Islam;
  2. menggulirkan pan-Islamisme, yaitu paham yang bertujuan mempersatukan seluruh umat Islam di dunia. Hal yang melatarbelakangi pemikiran tersebut adalah dominasi kolonial Barat di dunia Islam pada masa itu;
  3. antara laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama. Keduanya memiliki akal untuk berpikir. Ide pembaruannya tentang kesetaraan gender ini pun berdampak emansipasi wanita.
  4. berusaha mengubah sistem pemerintahan autokrasi menjadi demokrasi;

3. Muhammad Abduh (1849 - 1905 M)
     Nama lengkapnya adalah Muhammad Abduh Hasan Khairullah. Ia dilahirkan di Mahallat Nasr, Syubra Khit, al-Bahirah Mesir tahun 1849 M. Ia masih keturunan Umar bin Khatab dari garis ibunya. Abduh belajar agama ke Syekh Ahmad pada tahun 1862. Kemudian, ia melanjutkan ke Universitas Al-Azhar Kairo pada tahun 1866. Setelah menyelesaikan studinya, ia mengajar di Al-Azhar. Puncak kariernya, ia menjadi mufti pertama di Mesir pada tanggal 3 Juni 1899. Muhammad Abduh meninggal pada tanggal 11 Juli 1905. 
Pemikiran Muhammad Abduh
  1. Dalam bidang pendidikan, yaitu: menawarkan agar dilakukan lintas disiplin ilmu, yakni antara kurikulum madrasah dan sekolah. Sehingga menghilangkan dikotomi antara ulama dan ilmuwan modern; mengembangkan kelembagaan pendidikan, yaitu mendirikan sekolah menengah pemerintahan dalam berbagai bidang. Contohnya: administrasi, militer, kesehatan, perindustrian, dan sebagainya. Kemudian, ia melakukan pengembangan kurikulum sekolah dasar, menengah, kejuruan, dan universitas di Al-Azhar. Selain itu, ia melakukan pembaruan dalam pendidikan Islam, yaitu: memasukkan mata pelajaran matematika, geometri, algebra, geografi , sejarah, dan seni khat ke dalam pendidikan non-formal; mewujudkan farmasi khusus untuk pelajar Universitas al-Azhar; menyediakan dana khusus untuk gaji guru yang diambil dari perbendaharaan negara dan waqaf negara; memasukkan mata kuliah filsafat, logika, dan ilmu pengetahuan modern ke dalam kurikulum Universitas al-Azhar;
  2. Pintu ijtihad masih terbuka lebar bagi umat Islam. Ijtihad merupakan dasar penting dalam menafsirkan kembali ajaran Islam;
  3. Islam adalah ajaran rasional yang sejalan dengan akal. Dengan akal, maka ilmu pengetahuan menjadi maju; 
  4. Kekuasanaan negara harus dibatasi oleh konstitusi yang dibuat oleh negara yang bersangkutan.

4. Rasyid Ridha (1865 - 1935 M)
    Nama lengkapnya adalah Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsudi bin Baha’uddin al-Qalmuni al-Husaini. Nama populernya adalah Rasyid Ridha. Ia dilahirkan di Qalamun, yang tidak jauh dari Kota Tripoli Lebanon pada tanggal 23 September 1865 M. Ridha termasuk anak yang rajin. Pada saat itu, anak-anak seusianya asyik main, ia justru menghabiskan waktunya untuk membaca buku. Setelah menyelesaikan pendidikan di Qalamun, ia melanjutkan belajarnya di Madrasah al-Wathaniyah al-Islamiyah (Sekolah Nasional Islam) di Tripoli.
   Latar belakang pembaruan yang dilakukan Ridha adalah tuntutan zaman yang menuntut adanya perubahan. Ia hidup pada akhir abad ke-19 hingga sepertiga abad ke-20. Pada masa itu kondisi umat Islam berada pada posisi yang sangat buruk, kemunduran di berbagai bidang. Dalam pemikirannya, ia terpengaruh dengan pemikiran dari Jamaludin al-Afghani dan Muhammad Abduh. 
   Sebelum Jamaludin al-Afhani wafat, ia ingin sekali bertemu Muhammad Abduh untuk menimba ilmu darinya dan mengetahui pandangannya tentang reformasi Islam. Kemudian, pada tahun 1897, ia berjumpa dengan Muhammad Abduh. Atas persetujuan Abduh, ia menerbitkan majalah ”al-Manar”. Tujuan penerbitan tersebut adalah untuk menjadi corong bagi gerakan pembaruan Islam dalam memajukan umat Islam dan membebaskan dari belenggu penjajah. 
Pemikiran Rasyid Ridha
  1. Kemunduran umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan adalah karena umat Islam yang berpaling dari ajaran-ajaran Islam, karenanya umat Islam dalam mengejar ketertinggalan dari bangsa Eropa dengan satu syarat, yaitu harus kembali kepada ajaran Islam sebenarnya yang diajarkan Rasulullah Saw. dan dipraktikkan oleh para sahabat;
  2. Penyebab lain kemunduran umat Islam adalah merebaknya paham fatalisme di dunia Islam. Sebaliknya, ajaran agama Islam sejatinya mendorong umatnya bersifat dinamis;
  3. Ilmu pengetahuan modern tidak bertentangan dengan Islam. Karena itu, sudah sepantasnya umat Islam yang mendambakan kemajuan, harus siap mempelajari ilmuilmu modern. Bahkan, belajar ilmu modern sebenarnya mengambil kembali pengetahuan yang pernah dimiliki umat Islam;
  4. Hukum-hukum fiqih yang berkenaan dengan kemasyarakatan tidak boleh dianggap absolut. Hukum-hukum itu ditetapkan sesuai dengan suasana tempat dan zaman ia ditetapkan. Karenanya, ia menganjurkan untuk berijtihad. Menurutnya, ijtihad sebagai modal awal demi keberlangsungan syariat Islam yang memenuhi seluruh kebutuhan pembaruan;
  5. Apabila umat Islam ingin maju, maka umat Islam harus terlebih dahulu mewujudkan persatuan dan kesatuan;

5. Muhammad Iqbal (1877 - 1938 M)
    Muhammad Iqbal lahir di Kota Sialkot di Punjab pada tanggal 9 Nopember 1877. Ia berasal dari keluarga kelas menengah yang sederhana. Pendidikan agama didapatkan dari orang tuanya yang juga tokoh sufi di India. Setelah itu, ia belajar di Maktab (surau). Pendidikan formalnya ditempuh di Scottish Mission School di Sialkot, kemudian dilanjutkan di Government College di Lahore. Ia mendapatkan gelar Bachelor of Art (B.A.) nya pada tahun 1897. Dua tahun kemudian mendapatkan gelar Master of Art (M.A.) dengan memperoleh medali emas.
    Setelah itu, ia belajar di Universitas Cambridge London dan Philosophy of Doctor (Ph.D.) dari Universitas Munich Jerman. Puncak kariernya, ia terpilih menjadi Presiden Liga Muslim pada tahun 1930. Liga Muslim ini memiliki peran yang strategis dalam pergerakan kemerdekan India. Selain itu, ia menjadi kunci utama dalam pendirian Negara Pakistan, sebagai sebuah negara Islam yang terpisah dari Negara India. Meskipun tidak sempat menyaksikan langsung pendirian berdirinya Negara Pakistan, tetapi karena jasanya, ia tetap dikenang menjadi pahlawan nasional di Pakistan. Namanya diabadikan menjadi nama lapangan terbang antarbangsa Allama Muhammad Iqbal di Lahore. 
Pemikiran Muhammad Iqbal
  1. Bercita-cita membangun sebuah peradaban baru yang anggun, yaitu perpaduan antara peradaban Barat dan Timur. Keduanya dipadukan antara penalaran (ziraki) dan cinta (isyq). Menurutnya, apabila cinta dan penalaran berpadu niscaya akan terciptalah sebuah dunia baru. Kekurangan Barat diisi Timur, dan kekurangan Timur diisi Barat;
  2. Al-Qur’an merupakan kitab yang lebih mengutamakan amal daripada cita-cita. Al-Qur’an sebagai landasan dalam membentuk sebuah peradaban baru dan kehidupan sebagai suatu proses cipta yang kreatif dan progesif;
  3. Pintu ijtihad masih terbuka. Ijtihad merupakan dasar pergerakan dalam Islam. Ijtihad dibutuhkan pada setiap zaman untuk menyesuaikan ajaran Islam dengan tuntutan zaman;
  4. Mencita-citakan kebangkitan kembali umat Islam dari ”tidur panjangnya” berharap agar umat Islam dapat menerima kehidupan yang dinamis. Karakter berpikir dinamisnya, menurutnya adalah: menganut pola pikir yang kompleks, yaitu pola pikir yang kritis dan kreatif, menganut pola pikir maju dan berkembang, memiliki pertahanan diri yang lebih besar, memiliki psikodinamika yang kompleks, dan memiliki kepribadian yang luas.
  5. Tujuan pendidikan adalah memperkokoh dan memperkuat individualitasi dari peserta didik sehingga mereka menyadari segala kemungkinan menimpa dirinya. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

FAKTOR-FAKTOR RUNTUHNYA DINASTI UMAYYAH DI DAMASKUS

    Sistem monarkhi yang dipakai dalam proses peralihan kepemimpinan juga turut memperparah kelemahan Bani Umayyah. Sistem yang mengatur pergantian khalifah melalui garis keturunan ini merupakan sesuatu yang baru bagi tradisi bangsa Arab yang lebih menekankan pada aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas dan menyebabkan terjadinya persaingan tidak sehat di kalangan istana. Sistem monarkhi juga memberi peluang kepada para putra mahkota untuk melakukan penyelewengan kekuasaan, seperti kolusi, korupsi, tidak disiplin dalam pekerjaan dan tidak dapat bertanggung jawab terhadap satu pekerjaan. Sikap hidup mewah di lingkungan istana membuat putra-putra mahkota khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Akhirnya yang terjadi adalah para pembesar lain, seperti pengawal istana, perdana menteri dan para qodhi-lah yang dapat mengendalikan pemerintahan. Sementara itu, para khalifah yang berkuasa tidak dapat mengambil tindakan hukum...

PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TOKOH-TOKOH ILMUWAN PADA MASA DAULAH UMAYYAH DI DAMASKUS

       Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman permulaan Islam termasuk masa Bani Umayyah I meliputi 3 bidang, yaitu: Diniyah/agama Tarikh/sejarah  Filsafat.        Pada masa itu kaum Muslimin memperoleh kemajuan yang sangat pesat. Tidak hanya penyebaran agama Islam, tetapi juga penemuan-penemuan ilmu lainnya. Pembesar Bani Umayyah memang tidak berupaya untuk mengembangkan peradaban lainnya, akan tetapi mereka secara khusus menyediakan dana tertentu untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Para khalifah mengangkat ahli-ahli cerita dan mempekerjakan mereka dalam lembaga-lembaga ilmu, berupa masjid-masjid dan lembaga lainnya yang disediakan oleh pemerintah. Kebijakan ini mungkin karena didorong oleh beberapa hal:  Pemerintah Bani Umayyah I dibina atas dasar kekerasan karena itu mereka membutuhkan ahli syair, tukang kisah dan ahli pidato untuk bercerita menghibur para khalifah dan pembesar istana.  Jiwa Bani Umayyah adalah jiwa ...